Sistem Ejaan bahasa Kaidipang-Bolangitang

Bahasa Kaidipang-Bolangitang (Aparu Keidupa-Buḷangita) adalah sebuah bahasa Austronesia yang dituturkan di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Provinsi Sulawesi Utara. Bahasa ini termasuk dalam rumpun Gorontalo-Mongondowik, bagian dari rumpun Filipina Tengah Raya, sehingga berhubungan dengan bahasa Tagalog, Cebuano, dan Maranao yang dituturkan di Filipina.

Bahasa ini sudah dideskripsikan secara rinci dalam berbagai karya ilmiah linguistik, bahkan sudah memiliki 2 jilid kamus, yang masing-masing terbit pada tahun 1999 dan 2001. Sayangnya, di dalam kamus tersebut pun masih belum ada ketetapan mengenai ortografi atau sistem ejaan bahasa Kaidipang-Bolangitang. Hal ini mengakibatkan penutur bahasa Kaidipang-Bolangitang menggunakan ejaan yang berbeda satu sama lain karena belum adanya sistem ejaan yang seragam. Oleh karena itu perlu dibuat sebuah kaidah mengenai ortografi bahasa Kaidipang-Bolangitang yang memadai.

Berikut adalah ortografi yang saya buat berdasarkan data fonologi bahasa Kaidipang-Bolangitang yang termuat dalam Struktur Bahasa Kaidipang (1979); Rekonstruksi Proto-bahasa Gorontalo-Mongondow (1986); dan Kamus bahasa Indonesia-Kaidipang (A-K) (1999).

Konsonan
Bunyi Huruf Contoh
[b] B b botata (ubi jalar)
[] C c ceeto (cat)
[d] D d diningo (dinding)
[g] G g gibongo (biawak)
[h] H h hagi (jenis; warna)
[] J j janela (jendela)
[k] K k kakai (kakek)
[l] L l liliru (baring)
[ɭ̆] / [ɻ] Ḷ ḷ ango (lalat)
[m] M m mongaa (makan)
[n] N n nunuko (beringin)
[ŋ] Ng ng nganga (mulut)
[p] P p poniki (kelelawar)
[r] R r rusa (rusa)
[s] S s setango (setan)
[t] T t tohe (lampu)
[β] V v vukiru (gunung)
[w] W w wase (besi)
[j] Y y yopa (depa)

Selain bentuk konsonan tunggal, terdapat juga 4 gugus konsonan dalam bahasa Kaidipang-Bolangitang. Terdapat berbagai cara penulisan yang digunakan oleh penutur bahasa ini untuk menuliskan 4 gugus konsonan tersebut, karena itu perlu dibuat ejaan yang seragam sebagai berikut:

Gugus Konsonan

Bunyi Huruf Contoh
[ᵐb] mb tambato (tempat)
[ᵑɡ] ngg inggimi (remis)
[ᶮdʒ] nj panjongo (dahi)
[ⁿd] nt binte (jagung)

Bahasa ini memiliki 2 ciri khas yang berhubungan dengan bunyi vokal, yaitu (1) bahasa ini bersifat vokalis (setiap suku kata diakhiri dengan bunyi vokal); dan (2) memiliki bunyi vokal yang panjang. Penulisan bunyi vokal yang panjang ini perlu diperhatikan karena mempengaruhi makna, contohnya <sabongo> "rawa" vs <saboongo> "sabun"; <vua> "bulan" vs <vuaa> "emas"; dan sebagainya. Karena itu, perlu dibuat sistem ejaan huruf vokal yang sesuai dengan kebutuhan bahasa ini, yaitu sebagai berikut:

Vokal
Bunyi Huruf Contoh
[a] a aḷugu (sungai kecil)
[] aa ginaa (perasaan; napas)
[e] e ema (padi)
[] ee bee (tetapi; namun)
[i] i pitu (tujuh)
[] ii gubii (malam)
[o] o ota (orang)
[] oo boo (muka; wajah)
[u] u uka (tempurung kelapa)
[] uu buu (penyu)

Disebabkan bunyi vokal yang panjang dan diftong atau dua bunyi vokal dilafalkan mengayun, bunyi glotal atau bunyi hamzah perlu dilambangkan dengan tanda petik satu di antara huruf vokal yang memiliki bunyi hamzah, contoh: ma'apo "maaf"; o'o "iya"; dan sebagainya.

Berdasarkan rancangan di atas, berikut adalah alfabet untuk menuliskan bahasa Kaidipang-Bolangitang:

A B C D E G H I J K L Ḷ M N O P R S T U V W Y

a b c d e g h i j k l ḷ m n o p r s t u v w y


Bolangitang, 31 Januari 2023.

Daanisy Ahmad Pontoh.


Rujukan

  • Usup, Hunggu Tadjuddin. 1979. Struktur Bahasa Kaidipang. (Skripsi Sarjana). IKIP Manado.
  • Usup, Hunggu Tadjuddin. 1986. Rekonstruksi Proto-bahasa Gorontalo-Mongondow. (Tesis Doktoral). Universitas Indonesia.
  • Usup, Hunggu Tadjuddin, dkk. 1999. Kamus bahasa Indonesia-Kaidipang (A-K). Jakarta: Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Leksikon Melayu hingga abad ke-20

Leksikon atau Daftar Kata Melayu Manado